Pemerintah Suriah mulai menggulirkan langkah awal pemulihan ekonomi di kawasan-kawasan Damaskus yang hancur akibat perang, sembari menunggu proses rekonstruksi besar-besaran yang masih memerlukan waktu dan dukungan dana. Inisiatif ini diwujudkan melalui pembangunan kios dan toko-toko kecil di lingkungan yang terdampak parah.
Salah satu kawasan yang menjadi contoh nyata adalah Al-Tadamon, wilayah pinggiran Damaskus yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kehancuran konflik. Di tengah bangunan rusak dan puing-puing lama, deretan kios baru kini mulai berdiri dan kembali memunculkan aktivitas warga.
Proyek tersebut dikenal sebagai pasar interaktif yang digagas oleh Pemerintah Kota Damaskus. Tujuannya bukan sekadar menghadirkan ruang jual beli, tetapi juga menghidupkan kembali denyut ekonomi lokal yang lama terhenti.
Pejabat kota menilai, menghadirkan aktivitas ekonomi sederhana merupakan langkah realistis sebelum rekonstruksi penuh dilakukan. Dengan adanya kegiatan perdagangan, kawasan yang sempat ditinggalkan perlahan diharapkan kembali bernapas.
Kios dan toko tersebut ditempatkan di titik-titik strategis, salah satunya di depan toko roti otomatis yang menjadi pusat keramaian warga. Lokasi ini dipilih agar aktivitas ekonomi dapat langsung menjangkau kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar.
Proyek ini secara khusus menyasar kelompok masyarakat yang paling terdampak konflik. Anak yatim, janda, penyandang disabilitas, serta lansia menjadi prioritas utama dalam pembagian kios usaha tersebut.
Bagi kelompok rentan ini, kios bukan hanya tempat berdagang, tetapi juga harapan baru untuk membangun kembali kehidupan yang sempat runtuh. Mereka yang sebelumnya kehilangan rumah atau tempat usaha kini memiliki peluang untuk kembali mandiri.
Pemerintah kota menegaskan bahwa kios-kios tersebut juga ditujukan untuk menggantikan lapak kaki lima dan kios liar yang sebelumnya tersebar tanpa penataan. Dengan konsep ini, kawasan menjadi lebih tertib sekaligus lebih aman.
Untuk mendapatkan kios, warga harus melalui proses pengajuan resmi ke pemerintah provinsi. Pemohon diwajibkan melampirkan dokumen yang membuktikan status sosial dan kondisi mereka akibat konflik.
Setelah berkas masuk, sebuah komite khusus dibentuk untuk menyeleksi siapa saja yang paling layak menerima manfaat. Proses ini diklaim dilakukan secara bertahap dan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi pemohon.
Dari sisi biaya, pemerintah menetapkan tarif sewa bulanan yang bersifat simbolis. Angka yang ditetapkan relatif ringan agar tidak membebani para penerima manfaat yang baru memulai kembali usaha mereka.
Kontrak sewa kios berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang sesuai evaluasi Pemerintah Kota Damaskus. Skema ini memberikan kepastian sekaligus fleksibilitas bagi pengelola dan penyewa.
Lebih dari sekadar bantuan ekonomi, proyek ini dipandang sebagai bagian dari strategi sosial pemerintah Suriah. Dengan menciptakan pusat aktivitas, kawasan yang rusak diharapkan kembali menarik perhatian warganya.
Pemerintah berharap, keberadaan kios dan toko akan mendorong para pemilik rumah dan apartemen di sekitar Al-Tadamon untuk kembali. Aktivitas ekonomi dinilai sebagai sinyal bahwa kawasan tersebut mulai aman dan layak dihuni kembali.
Jika warga mulai kembali dan memperbaiki hunian mereka secara mandiri, beban negara dalam proses rekonstruksi juga dapat berkurang. Pola ini disebut sebagai pemulihan berbasis komunitas.
Para penerima manfaat mengungkapkan rasa syukur atas inisiatif tersebut. Bagi mereka, kios kecil yang disediakan negara sudah cukup untuk memulai kembali kehidupan yang sempat terhenti selama bertahun-tahun.
Di tengah keterbatasan anggaran dan sanksi ekonomi yang masih membayangi Suriah, pendekatan ini dinilai lebih realistis dibanding menunggu proyek rekonstruksi berskala besar.
Aktivitas jual beli yang mulai terlihat di Al-Tadamon juga menghadirkan suasana baru. Jalan-jalan yang sebelumnya sepi kini mulai dipenuhi interaksi warga.
Pengamat lokal menilai, meski dampaknya belum besar, proyek ini memiliki nilai simbolis yang kuat. Negara ingin menunjukkan kehadirannya di tengah masyarakat, bahkan di wilayah yang paling rusak.
Jika model pasar interaktif ini dinilai berhasil, pemerintah kota membuka peluang untuk menerapkannya di kawasan lain di Damaskus yang mengalami kehancuran serupa. Langkah kecil ini diharapkan menjadi fondasi kebangkitan kota yang lama dilanda perang.
Dengan menghidupkan ekonomi dari bawah, pemerintah Suriah mencoba menata ulang Damaskus secara bertahap. Dari kios-kios sederhana, harapan akan pemulihan kota perlahan mulai tumbuh kembali.







0 komentar:
Posting Komentar